Proses Pembuatan Gerabah Kerajinan Tangan Khas Pulau Lombok
Banyak orang yang
pintar berkarya dan dari hasil karya tersebut mereka bisa
melanjutkan hidup mereka walau tidak jarang dari mereka
meraih sukses dari karya tersebut, sebagai ontoh kerajinan
tangan. Kerajinan tangan mempunyai keunikan tersendiri, jadi
tidak heran apabila terkadang kerajinan tangan lebih mahal
bahkan sangat mahal. Di pulau Lombok populer dengan
kerajinan tangan gerabah, tenun, ukir-ukiran kayu maupun
batu, mas dan mutiara. Banyak desa yang menghasilkan
kerajinan tangan hingga turun temurun seperti desa
banyumulek yang terkenal dengan desa gerabah, desa sukarare
yang terkenal dengan tradisional tenunnya, dan desa Labuapi
yang terkenal dengan ukir-ukirannya.
Sejarah Gerabah
Barang-barang tembikar yang lebih dikenal dengan nama “
Gerabah” menjadi salah satu bentuk buah karya dan sekaligus
tradisi nenek moyang turun-temurun yang pernah ada dan
sampai sekarang masih dipertahankan sebagai suatu keahlian
penduduk setempat yang telah diakui dunia. Dulu gerabah
biasa digunakan untuk menyimpan beras, garam dan
bumbu-bumbuan disamping digunakan untuk tujuan memasak.
Pembuatan gerabah merupakan pekerjaan ibu dan anak perempuan
, sebaliknya menjual dan membawa ke pasar adalah tugas ayah
dan anak lelaki. Namun seiring kemajuan zaman yang begitu
cepat dimana sebagain besar ayah dan anak laki-laki ambil
bagian dalam pembuatan gerabah bekerja bersama-sama untuk
memperoleh hasil yang maksimal dan kualitas yang bagus.
Membuat sebuah pot sederhana saja tidak semudah orang-orang
pikirkan karena membutuhkan proses berliku dan lama, sebagai
informasi, kami ketengahkan cara-cara pembuatan gerabah ini
sebagai berikut:
1. Proses Pencarian
tanah liat
Butuh inspeksi yang teliti untuk mendapatkan tanah liat
terbaik yang sesuai dengan kualitas standart. Tanah liat
yang bagus tidak harus berasal dari desa penghasil gerabah
namun berasal dari desa terdekat. Tanah liat tidak serta
merta langsung digunakan tapi butuh ketelitian yang mendalam
dan memastikan kalau tanah liat tidak bercampur batu-batu
kecil dan kotoran.
2. Proses Pengeringan
Setelah inspeksi, tanah liat dipotong-potong seperti kubus
dan dijemur di bawah sinar matahari, butuh sekitar 3 atau 4
hari. Bila potongan kubus-kubus tersebut sudah kering,
kemudian ditumbuk jadi seperti adonan tepung yang lembut dan
disimpan sebelum digunakan sebagai adonan. Yang paling
menarik untuk disaksikan tidak ada alat-alat modern yang
mendukung dalam pembuatan gerabah, tapi lapisa-lapisan tanah
liat terus ditambahkan dari jumlah adonan asli sementara
para pengrajin gerabah memutar benda/alat yang digunakan
sampai terbentuk benda yang diinginkan, kendati bentuknya
seperti sudah jadi namun sebenarnya belum selesai, lalu ada
juga pengrajin yang ditugaskan khusus untuk mendekorasi
setelah itu benda/pot yang dimaksudkan dibiarkan kering di
tempat yang tidak terlalu banyak kena sinar matahari.
3. Proses Mempernis
dengan minyak kelapa
Benda/pot yang sudah dipernis adalah kombinasi minyak kelapa
dan dibiarkan kering sebelum di kerik/digosok dengan batu
hitam atau alat-alat tradisisonal lainnya karena itu
permukaannya kelihatan mengkilat dan lagi dikeringkan
diterik sinar matahari dan itu butuh satu hari bahkan juga
digosok halus di pertengahan siang hari untuk menambah
kilauannya.
4. Proses Pembakaran
Benda/pot siap untuk dibakar and dikumpulkan kedalam oven
terbuka yang ditutupi jerami padi yang dibakar selama lebih
dari 4 jam dan temperature produksinya sekitar 400 sampai
800 derajat Celsius
5. Proses Pewarnaan
Pekerjaan terakhir adalah memilih warna yang tepat , bila
warna merah tua yang dikehendaki dilapisi dengan sari biji
asam dan bila warna merah jentik yang dikehendaki, cukup
jentikkan dengan sekam.
Sejak pelatihan dilaksakan secara intensif, dengan
sendirinya para pengarjin gerabah lebih kreatif dalam
membuat pola, bentuk serta motif yang diinginkan, jadi
mereka telah siap berkompetisi memberikan hasil karya
terbaik dengan kualitas hebat di pasar bisnis dunia.
Ada 3 desa penghasil gerabah yang terkenal di Lombok, sebut
saja Banyumulek di Lombok Barat, Penujak di Lombok Tengah
dan Penakak di Lombok Timur, masing-masing memiliki keunikan
serta ciri khas tersendiri.
|
|